Cloud computing adalah penggunaan sumber daya komputasi (hardware dan software) yang disampaikan sebagai layanan melalui jaringan (biasanya internet). Nama berasal dari penggunaan simbol awan berbentuk sebagai abstraksi untuk infrastruktur kompleks yang dikandungnya dalam diagram sistem. Cloud computing mempercayakan layanan jarak jauh dengan data pengguna, perangkat lunak dan komputasi.
Biasanya Cloud Computing mempunyai server pusat yang jauh untuk menjaga / mengelola data dan aplikasi. Jadi, kita sebagai user tidak lagi perlu instalasi aplikasi di komputer kita. Untuk synchronize kita cukup butuh username dan password sebagai pengenal atau id. Dengan Cloud Computing memungkinkan kita bisa mengakses file, dokumen atau apapun yang bersifat "cyber account" dimana saja. Untuk lebih mudah dipahami,contoh yang paling mudah dan familiar adalah email. Hampir setiap orang di dunia pasti memiliki account email. Untuk urusan ini, Yahoo dan Gmail paling sering digunakan oleh user. Nah, cara kerjanya mudah, kita tidak perlu software atau server untuk menggunakannya. Semua user hanya perlu koneksi internet dan mereka dapat mulai mengirimkan email. Software manajemen email dan serber semuanya ada di cloud (internet) dan secara total dikelola oleh provider seperti Yahoo, Google, dll. User hanya perlu menggunakan software itu sendiri dan menikmati manfaatnya.
http://friendshitmygreen.blogspot.com/2012/03/keuntungan-dan-kerugian-cloud-computing.html
(B) Manfaat Untuk kita
Berikut ini adalah beberapa manfaat dan keuntungan cloud computing baik bagi individu, maupun perusahaan.
1. Akses Mudah Dimanapun Anda Berada
Kemudahan dalam mengakses data atau aplikasi merupakan kelebihan utama
dari cloud computing. Untuk mengakses aplikasi yang kita perlukan saat
bekerja, kita tidak perlu berada pada suatu computer yg sama karena
aplikasi atau data yang kita butuhkan dapat diakses dimanapun melalui
server.
2. Efisiensi Biaya
Penggunaan cloud computing akan mengurangi biaya yang dikeluarkan
perusahaan untuk operasional komputer terutama untuk hardware. Dengan
menggunakan cloud computing, perusahaan tidak perlu lagi mengeluarkan
biaya seperti maintenance, biaya listrik (penggunaan listrik semakin
berkurang), dan lain-lain.
3. Meningkatkan ROI dan Cash Flow
Hal lain yang dapat dipertimbangkan adalah bahwa dengan cloud kita tidak
perlu melakukan investasi atau mengeluarkan capital expenditure.
Perusahaan hanya perlu membayar sewa sesuai pemakaian. Hal ini berarti
mengkonversi capex menjadi opex (operating expenditure). Bagi
perusahaan, model seperti ini cukup menguntungkan karena akan
memperbesar ROI (return on Investment) dan melancarkan cash-flow.
4. Fleksibilitas dalam Menambah Kapasitas
Dengan cloud kita tidak perlu melakukan proses pengadaan komputer yang
memakan banyak waktu. Cukup dengan melakukan self-provisioning dalam
hitungan menit, kapasitas yang kita butuhkan telah siap digunakan.
Kekurangan Cloud Computing
Hal yang paling wajib dalam komputasi awan adalah koneksi internet,
internet bisa dibilang jalan satu-satunya jalan menuju komputasi awan,
ketika tidak ada koneksi internet ditempat kita berada maka jangan harap
bisa menggunakan sistem komputasi awan. Hal ini masih menjadi hambatan
khsusnya bagi Indonesia, karena belum semua wilayah di tanah air
terjangkau oleh akses internet, ditambah lagi sekalipun ada koneksinya
belum stabil dan kurang memadai.
Kerahasiaan dan keamanan adalah salah satu hal yang paling diragukan
pada komputasi awan. Dengan menggunakan sistem komputasi awan berarti
kita mempercayakan sepenuhnya atas keamanan dan kerahasiaan data-data
kepada perusahaan penyedia server komputasi awan. Contoh paling
sederhana adalah ketika sobat menyimpan foto-foto sobat di facebook
dengan beberapa konfigurasi privasi yang diberikan kepada kita, maka
selebihnya kita mempercayakan keamanan file-file tersebut kepada
facebook. Andaikata foto-foto tersebut hilang kita tidak bisa menuntut
karena kita memanfaatkan jasa trsebut secara cuma-cuma alias gratis.
Saat ini sudah mulai banyak perusahaan-perusahaan penyedia sewa hosting
(server) penyimpanan file semisal 4shared, Indowebster, Ziddu, dan
lain-lain, ada yang gratis dan juga yang berbayar.
http://hadisaputra3.blogspot.com/2013/05/cloud-computing.html
(C) C.C di mata para ahli di masa depan?
Keamanan makin memasyarakat
Jika Anda pernah membaca tulisan di media dan laporan analis industri TI, tentu akan teringat bahwa kekhawatiran keamanan tentang cloud (bagaimanapun istilah itu digunakan) selalu ada di bagian atas dari daftar kekhawatiran calon pengguna. Bahkan ketika argumen yang terlalu naif mengenai apakah coud itu aman atau tidak aman sudah tidak banyak lagi diucapkan, dan digantikan oleh argumen yang lebih halus, tetap saja ada banyak kerumitan dan ketidakpastian.
Salah satu sebabnya, istilah “keamanan” sering digunakan sebagai kata ganti untuk berbagai isu seperti kepatuhan, audit, regulasi, legal dan pemerintahan yang kadang sebenarnya tak benar-benar terkait dengan keamanan sesungguhnya. Selain itu, sebagai industri, saat ini kita berhadapan dengan banyak pendekatan baru pada komputansi dan menghadirkan layanan aplikasi sehingga tak punya cukup pengalaman sejarah dan pendekatan yang sudah mapan untuk memitigasi risiko terkait. Akibatnya, menangani keamanan dan kekhawatiran seputar keamanan di cloud kadang seakan-akan sebuah tugas yang membutuhkan pakarnya, padahal yang namanya pakar keamanan cloud sungguh sangat sedikit.
Hybrid makin banyak diperbincangkan
Konsumerisasi TI adalah salah satu komponen (memang hanya satu komponen) dari satu lagi tren cloud computing – hybrid cloud computing. Hybrid mengacu pada manajemen cloud yang melintasi dua bagian, baik on premise (atau sumberdaya terdedikasi di penyedia hosting) dan cloud publik yang memiliki banyak pengguna – meskipun cloud juga bisa memiliki variasi keberagaman lainnya.
Sudut pandang konsumerisasi adalah, penggunaan cloud public seringnya terjadi karena pengguna memanfaatkan sumberdaya komputansi dengan kartu kredit mereka sendiri karena departemen TI tidak cukup gesit untuk memenuhi kebutuhan itu. Praktek semacam itu bisa jadi ada di luar dari praktek pengelolaan TI yang ada. Di satu sisi, hal itu bisa baik untuk fleksibilitas dan kecepatan, tapi di sisi lain akan merepotkan jika ada pembobolan data atau aplikasi yang dikembangkan di cloud publik tak bisa dengan mudah diterapkan ke produksi on-premise.
Ide di balik hybrid cloud adalah bahwa sumber daya bisa disediakan bagi pengguna semudah jika mereka mengakses cloud publik tapi dengan semua proses itu tetap ada di bawah manajemen TI yang terpusat, dan ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan manajemen hybrid cloud terbuka CloudForms.
Jika Anda pernah membaca tulisan di media dan laporan analis industri TI, tentu akan teringat bahwa kekhawatiran keamanan tentang cloud (bagaimanapun istilah itu digunakan) selalu ada di bagian atas dari daftar kekhawatiran calon pengguna. Bahkan ketika argumen yang terlalu naif mengenai apakah coud itu aman atau tidak aman sudah tidak banyak lagi diucapkan, dan digantikan oleh argumen yang lebih halus, tetap saja ada banyak kerumitan dan ketidakpastian.
Salah satu sebabnya, istilah “keamanan” sering digunakan sebagai kata ganti untuk berbagai isu seperti kepatuhan, audit, regulasi, legal dan pemerintahan yang kadang sebenarnya tak benar-benar terkait dengan keamanan sesungguhnya. Selain itu, sebagai industri, saat ini kita berhadapan dengan banyak pendekatan baru pada komputansi dan menghadirkan layanan aplikasi sehingga tak punya cukup pengalaman sejarah dan pendekatan yang sudah mapan untuk memitigasi risiko terkait. Akibatnya, menangani keamanan dan kekhawatiran seputar keamanan di cloud kadang seakan-akan sebuah tugas yang membutuhkan pakarnya, padahal yang namanya pakar keamanan cloud sungguh sangat sedikit.
Hybrid makin banyak diperbincangkan
Konsumerisasi TI adalah salah satu komponen (memang hanya satu komponen) dari satu lagi tren cloud computing – hybrid cloud computing. Hybrid mengacu pada manajemen cloud yang melintasi dua bagian, baik on premise (atau sumberdaya terdedikasi di penyedia hosting) dan cloud publik yang memiliki banyak pengguna – meskipun cloud juga bisa memiliki variasi keberagaman lainnya.
Sudut pandang konsumerisasi adalah, penggunaan cloud public seringnya terjadi karena pengguna memanfaatkan sumberdaya komputansi dengan kartu kredit mereka sendiri karena departemen TI tidak cukup gesit untuk memenuhi kebutuhan itu. Praktek semacam itu bisa jadi ada di luar dari praktek pengelolaan TI yang ada. Di satu sisi, hal itu bisa baik untuk fleksibilitas dan kecepatan, tapi di sisi lain akan merepotkan jika ada pembobolan data atau aplikasi yang dikembangkan di cloud publik tak bisa dengan mudah diterapkan ke produksi on-premise.
Ide di balik hybrid cloud adalah bahwa sumber daya bisa disediakan bagi pengguna semudah jika mereka mengakses cloud publik tapi dengan semua proses itu tetap ada di bawah manajemen TI yang terpusat, dan ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan manajemen hybrid cloud terbuka CloudForms.
Semakin banyak orang menggunakan internet.
Berdasarkan
data dari Internet World Stats (IWS), total pengguna internet di dunia
saat ini telah mencapai 1,7 miliar orang. Coba bandingkan dengan
keseluruhan populasi masyarakat seluruh dunia yang berjumlah 6,7 miliar
orang. Tak diragukan lagi, pada 2020 akan semakin banyak orang yang akan
memiliki akses internet. National Science Foundation bahkan memprediksi
bahwa pengguna internet akan membludak hingga lima miliar orang.
akan kian 'menghijau'
Operasional
internet saat ini mengkonsumsi terlalu banyak energi dan para ahli
setuju bahwa di masa yang akan datang arsitektur internet membutuhkan
lebih banyak efisiensi energi.
Manajemen jaringan akan lebih otomatis
Selain
lemah dari sisi keamanan, kelemahan terbesar internet saat ini adalah
kurang mapannya teknik manajemen jaringan. Itu sebabnya, salah satu
lembaga bernama National Science Foundation berambisi dalam membuat
perangkat manajemen jaringan terbaru. Dengan perangkat ini sistem
rebooot, pengumpulan data dan tugas lainnya bisa dilakukan secara
otomatis.




